Popular Posts

Blogger templates

Blogger news

Blogroll

About

Mengenai Saya

Foto saya
Hello world, my name Deddy Setiawan. I am a professional writer and has written 13 books. I live and work in Indonesia. Writing a blog is my way to share with others. Hopefully useful ...
Diberdayakan oleh Blogger.
Selasa, 22 April 2014
21 April kemarin, seperti tahun-tahun sebelumnya, negeri ini kembali riuh dalam peringatan Hari Kartini. Penghormatan terhadap seorang perempuan Jepara yang gigih menyuarakan harapannya atas nasib kaum perempuan lain di sekitarnya. Di banyak tempat kita melihat perempuan-perempuan dari yang berusia belia sampai yang tua tampil dengan berbagai ekspresi yang hampir senada; sanggul, kebaya, dan lomba mengulek sambal atau yang sejenisnya.

Terlepas dari kontroversi soal apa yang benar-benar dilakukan oleh Kartini untuk bangsa ini - jika dibandingkan dengan Cut Nya' Dien yang memanggul senjata dan bergerilya di belantara Aceh atau Nyi Ahmad Dahlan yang mendampingi suaminya dalam memberdayakan umat atau banyak perempuan lain yang nama dan perjuangannya ditenggelamkan sejarah - saya lebih melihat ini sebagai sebuah momentum berharga untuk kembali melihat sejarah sekaligus belajar darinya. Bahwa sejarah kita bercampur dengan fiksi yang membuat kita tidak bisa lagi secara jernih memandang mana kenyataan dan mana mitos yang dilahirkan dan dibesarkan untuk kepentingan tertentu itu sebuah fakta. Tentu tidak pula bermaksud mengecilkan makna dari apa yang dilakukan Kartini.

Inilah saat yang tepat untuk menyadarkan orang bahwa literasi dan gerakan baca tulis yang dilakukan oleh Kartini melahirkan efek yang menyejarah. Pencatatan, penulisan, tradisi literasi yang tidak terjaga hari ini telah menyebabkan begitu banyak kenangan berharga - apalagi nilai - yang tidak bisa lagi diwariskan kepada generasi selanjutnya. Saat berkunjung ke Makassar tahun 2011 saya terperangah ketika seorang supir taksi yang membawa saya berkeliling tidak mengetahui siapa sosok ulama pejuang Syekh Yusuf Al-Makassari dan apa saja peninggalannya di kota yang melekat dengan namanya tersebut. Sampai di situ saya menyadari kenapa tidak ada generasi baru yang mengetahui riwayat para pahlawan di kota kami meski nama mereka diabadikan sebagai nama jalan. Maka tradisi literasi, budaya tulis baca harus terus dibangun. Karena - meminjam istilah Pramuoedya Ananta Toer - orang boleh pintar setinggi langit, tapi selama tidak menulis buku, ia akan ditenggelamkan.

Dulu saya beranggapan bahwa penulis itu lahir, bukan dilahirkan. Tetapi lama-kelamaan saya menyadari bahwa tradisi baca-tulis bukanlah sesuatu yang begitu istimewa sehingga harus dirawat dan dipelihara sedemikian rupa hingga tetap menjadi sesuatu yang langka.  Anne Frank toh hanya gadis kecil yang ketakutan di loteng tempat keluarga mereka bersembunyi selama masa Perang Dunia II. Tidak ada yang istimewa dari segi teknik maupun diksi yang dipegunakannya. Begitu juga dengan celoteh dan curhat Kartini pada para sahabatnya. Bukan sesuatu yang istimewa. Kenapa menjadi berbeda dan harus kita rayakan? Tidak lain karena ia telah menuliskannya. Itu saja.
 Maka mungkin kita bisa memanfaatkan momentum Hari Kartini itu untuk membangun kebiasaan menulis, sesederhana apa pun itu. Karena kelak apa yang kita tuliskan tersebut menjadi warisan yang berharga bagi orang-orang di sekitar kita dan pemberat amal kebajikan setelah kita tiada
Senin, 21 April 2014
Dalam Konferensi Umum di Paris tahun 1995, UNESCO menetapkan tanggal 23 April sebagai Hari Buku Sedunia. Penetapan tersebut merupakan bentuk penghormatan atas pengarang Miguel De Cervantes yang wafat pada hari tersebut. Tetapi memang tidak banyak orang yang mengetahui tentang penetapan Hari Buku Sedunia. Indonesia sendiri baru merayakan Hari Buku Sedunia tersebut pada tahun 2006.

Ada tradisi menarik sehubungan dengan perayaan Hari Buku Sedunia tersebut. Di Eropa sejak Abad Pertengahan para perempuan biasa mengirimkan bunga untuk pasangannya setiap tanggal tersebut yang bertepatan dengan peringatan Hari St. George di Katalonia. Tapi sejak 1993, didorong kampanye para pedagang buku, tradisi membeikan bunga berubah menjadi saling memberikan buku kepada pasangannya. Istilah Say It With Flower yang sering dinyatakan sebagai deklarasi rasa cinta berubah jadi sebuah tradisi keilmuan yang tidak kurang nilai romantismenya.

Maka tak ada salahnya mengungkapkan cinta dengan sepotong buku ...
Selamat datang ...
Perpustakaan adalah salah satu wahana belajar sepanjang masa. Tidak seperti jenjang pendidikan formal, perpustakaan tidak memiliki batas usia. Sejak pertama kali mengenal huruf sampai sudah tak mampu lagi untuk membuka mata, perpustakaan adalah tempat yang selalu relevan untuk mencari ilmu.

Dengan niat dan komitmen menjadi wahana belajar sepanjang masa tersebut, Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Sukamara mengembangkan layanan 6 hari seminggu sejak jam 7 pagi sampai jam 5 sore. Kebijakan tersebut diambil untuk melayani masyarakat terutama pelajar dan pegawai yang dalam memenuhi keinginan membaca seringkali bertabrakan dengan kewajiban lain dan jadwal yang sudah ditentukan.

Sebagai SKPD yang baru berusia 1 tahun tentu masih sangat banyak yang perlu dibenahi mulai dari sarana dan prasarana termasuk peningkatan koleksi buku dan daya jangkau layanan. Dengan segala keterbatasan yang ada KAPD Sukamara berusaha menjadi bagian dari kampanye gemar membaca di masyarakat khususnya Kabupaten Sukamara